Thursday, June 8, 2017

#savekartsgembong

Mari bersama-sama, bersinergi untuk Karst Indonesia. Peran speleologi dan penelusur gua sangat penting dalam membantu masyarakat menyuarakan haknya atas air, tanah dan udara.

Gombong memang tidak layak untuk ditambang dan didirikan pabrik semen.

Terima kasih teman-teman BAC, Pecinta Alam di Purwokerto dan teman-teman ASC dan para pegiat Speleologi yang bersama-sama menyuarakan pentingnya Karst Gombong.

5 Kartini Kendeng

5 Kartini Kendeng di temui ketua DPP PDIP Bidang Pemenangan Pemilu, Bambang DH.
Ibu-ibu menyampaikan kronologis persoalan, bahwa pak Jokowi memerintahkan di bentuk KLHS, adapun hasilnya sudah di umumkan tetapi di lapangan tidak dijalankan.
Bambang menyatakan akan menyampaikan persoalan tersebut kepada Ketua DPP dan Ketum Partai Ibu Megawati Sukarno Putri. Mengenai waktunya belum bisa memastikan kapan.
cc Anita Dhewy

Wednesday, June 7, 2017

Petani Kendeng Menagih Megawati

Pers rilis
Petani Kendeng Menagih Megawati atas ingkar janji Ganjar Pranowo
Jakarta, 08 Juni 2017

Pada periode awal kepemimpinanya, Gubernur Jawa Tengah mendapat mandat penting dari Megawati selaku ketua partai PDI-P sebagai pengusungnya dalam pemilukada Jawa Tengah. Dalam sebuah pidato Megawati memberikan pesan agar Ganjar Pranowo menyejahterakan petani Jawa Tengah atau ia sendiri yang akan “menyembelih” gubernur dari PDI-P ini (29/3/2013). Mandat ini penting sebagai usaha untuk memajukan provinsi Jawa Tengah sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Namun apa yang telah dikerjakan Ganjar selama tiga setengah tahun masa jabatanya?

Berbagai program terkait pertanian seakan menjadi dongeng saja di Jawa Tengah. Kartu Tani dan Nelayan yang dulu jadi program Ganjar Pranowo tak dinikmati semua petani. Gerakan desa berdikari yang memikat hati para pemilihnya juga tak jelas dimana. Walaupun sempat mendapat penghargaan sebagai provinsi dengan produktivitas padi tinggi, namun kami tak merasakan apa yang dilakukan oleh gubernur Jawa Tengah untuk membantu kami sebagai petani.

Justru penghidupan kami terus terancam oleh berbagai bencana yang sering terjadi dan rencana pembangunan pabrik semen. Lahan pertanian kami yang subur seakan hilang dari pandangan para pembuat rencana pembangunan. Tanah yang telah menghidupi kami sejak leluhur kami digantikan dengan hitung-hitungan keuntungan uang dalam rencana proyek pembangunan pabrik semen. Apakah uang dari pabrik semen itu akan sampai pada anak cucu kami? Tidak. Banyak cerita dari Gresik dan Tuban, tempat dimana pabrik semen pernah berdiri, uang hasil penjualan tanah untuk pabrik semen hanya bertahan tak lebih dari sepuluh tahun. Setelah itu mereka terpaksa mencari pekerjaan lain karena tak lagi punya tanah. Kami tak ingin seperti mereka.

Tekad itu kami wujudkan dalam berbagai tindakan. Tak terhitung berapa aksi demonstrasi yang telah kami lakukan. Tak kurang dukungan dari berbagai kelompok diberikan kepada kami. Namun semua ini seakan tak berarti karena Gubernur Jawa Tengah lebih memilih untuk menerbitkan ijin lingkungan baru untuk PT. Semen Indonesia. Tindakan yang patut dipertanyakan karena dilakukan oleh kader partai yang mengaku sebagai partainya “wong cilik”.
Bagaimana ini bu Megawati? Kami ingin bertemu dengan Ibu untuk menceritakan isi hati kami. Mengingatkan mengenai apa yang kami khawatirkan.

Selain itu, kemarin (7/7) Bu Megawati bersama tokoh-tokoh lainnya dilantik Presiden Jokowi sebagai Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKPPIP). Berkaitan dengan Pancasila yang akan jadi fokus kerja dari UKPPIP nantinya, Bu Megawati seharusnya yang menanamkan dan memastikan Ideologi Pancasila menjadi pedoman bagi setiap Kepala Daerah dalam setiap kebijakan dan keputusannya.

Keputusan Gubernur Jawa Tengah menerbitkan izin lingkungan pabrik semen dan tambang di Rembang jelas-jelas mencederai kemenangan dan kepastian hukum warga Rembang. Kami yang telah menang di Mahkamah Agung, kemudian dihadapkan lagi pada  bentuk kesewenangan yang nyata-nyata turut mencederai Pancasila. Karena itu, sudah sepantasnya kerja awal dari Bu Megawati bersama UKPPIP menegakkan dan memastikan Gubernur Jawa Tengah tidak mencederai ideologi Pancasila dengan meminta Ganjar untuk mencabut izin lingkungan PT.Semen Indonesia di Rembang.

Salam Kendeng!
Lestari!

Kontak:
Sukinah (082329975823)
Gunarti (085200117499)

Tuesday, May 16, 2017

Gunung bukan untuk di taklukan

Aku pergi Mendaki gunung bukan untuk menaklukannya tetapi.............

Sedikit sekali orang yang bisa memahami keadaan seseorang atau keadaan sekitarnya, jika ia tidak terjun langsung atau mengalami apa yang dirasakan seseorang dalam kehidupannya.
Pencinta Alam atau biasa disebut PA, itulah yang pertama kali orang katakan saat melihat sekelompok orang – orang ini. Dengan ransel serat beban, topi rimba, baju lapangan, dan sepatu gunung yang dekil bercampur lumpur, membuat mereka kelihatan gagah. Hanya sebagian saja yang menatap mereka dengan mata berbinar menyiratkan kekaguman, sementara mayoritas lainnya lebih banyak menyumbangkan cibiran, bingung, malah bukan mustahil kata sinis yang keluar dari mulut mereka, sambil berkata dalam hatinya, “Ngapain cape – cape naik Gunung. Nyampe ke puncak, turun lagi…mana di sana dingin lagi, hi…!!!!!!!”
Tapi tengoklah ketika mereka memberanikan diri bersatu dengan alam dan dididik oleh alam. Mandiri, rasa percaya diri yang penuh, kuat dan mantap mengalir dalam jiwa mereka. Adrenaline yang normal seketika menjadi naik hanya untuk menjawab golongan mayoritas yang tak henti – hentinya mencibir mereka. Dan begitu segalanya terjadi, tak ada lagi yang bisa berkata bahwa mereka adalah pembual !!!!!
Peduli pada alam membuat siapapun akan lebih peduli pada saudaranya, tetangganya, bahkan musuhnya sendiri. Menghargai dan meyakini kebesaran Tuhan, menyayangi sesama dan percaya pada diri sendiri, itulah kunci yang dimiliki oleh orang – orang yang kerap disebut petualang ini. Mendaki gunung bukan berarti menaklukan alam, tapi lebih utama adalah menaklukan diri sendiri dari keegoisan pribadi. Mendaki gunung adalah kebersamaan, persaudaraan, dan saling ketergantungan antar sesama.
Dan menjadi salah satu dari mereka bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi pandangan masyarakat yang berpikiran negative terhadap dampak dari kegiatan ini. Apalagi mereka sudah menyinggung soal kematian yang memang tampaknya lebih dekat pada orang – orang yang terjun di alam bebas ini. “Mati muda yang sia – sia.” Begitu komentar mereka saat mendengar atau membaca anak muda yang tewas di gunung. Padahal soal hidup dan mati, di gunung hanyalah satu dari sekian alternative dari suratan takdir. Tidak di gunung pun, kalau mau mati ya matilah…!!!
Kalau selamanya kita harus takut pada kematian, mungkin kita tidak akan mengenal Columbus penemu Benua Amerika.

Di ketinggian gunung kaki berpijak, di sanalah tempat yang paling damai dan abadi. Dekat dengan Tuhan dan keyakinan diri yang kuat. Saat kaki menginjak ketinggian, tanpa sadar kita hanya bisa berucap bahwa alam memang telah menjawab kebesaran Tuhan. “Aku pergi Mendaki gunung bukan untuk menaklukannya ,tetapi aku mendaki gunung untuk mengenal kebesaran Sang PenciptaNya,dan gunung itu telah menjawabnya”.

Di sanalah pembuktian diri dari suatu pribadi yang egois dan manja, menjadi seorang yang mandiri dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Rasa takut, cemas, gusar, gundah, dan homesick memang ada, tapi itu dihadapkan pada kokohnya sebuah gunung yang tak mengenal apa itu rasa yang menghinggapi seorang anak manusia. Gunung itu memang curam, tapi ia lembut. Gunung itu memang terjal, tapi ia ramah dengan membiarkan tubuhnya diinjak – injak. Ada banyak luka di tangan, ada kelelahan di kaki, ada rasa haus yang menggayut di kerongkongan, ada tanjakan yang seperti tak ada habis – habisnya. Namun semuanya itu menjadi tak sepadan dan tak ada artinya sama sekali saat kaki menginjak ketinggian. Puncak gunung menjadi puncak dari segala puncak. Puncak rasa cemas, puncak kelelahan, dan puncak rasa haus, tapi kemudian semua rasa itu lenyap bersama tirisnya angin pegunungan.
Lukisan kehidupan pagi Sang Maha Pencipta di puncak gunung tidak bisa diucapkan oleh kata – kata. Semuanya cuma tertoreh dalam jiwa, dalam hati. Usai menikmati sebuah perjuangan untuk mengalahkan diri sendiri sekaligus menumbuhkan percaya diri, rasanya sedikit mengangkat dagu masih sah – sah saja. Hanya jangan terus – terusan mengangkat dagu, karena walau bagaimanapun, gunung itu masih tetap kokoh di tempatnya. Tetap menjadi paku bumi, bersahaja, dan gagah. Sementara manusia akan kembali ke urat akar di mana dia hidup.
Ya, menghargai hidup adalah salah satu hasil yang diperoleh dalam mendaki gunung. Betapa hidup itu mahal. Betapa hidup itu ternyata terdiri dari berbagai pilihan, di mana kita harus mampu memilihnya meski dalam kondisi terdesak. Satu kali mendaki, satu kali pula kita menghargai hidup. Dua kali mendaki, dua kali kita mampu menghargai hidup. Tiga kali, empat kali, ratusan bahkan ribuan kali kita mendaki, maka sejumlah itu pula kita menghargai hidup.
Hanya seorang yang bergelut dengan alamlah yang mengerti dan paham, bagaimana rasanya mengendalikan diri dalam ketertekanan mental dan fisik, juga bagaimana alam berubah menjadi seorang bunda yang tidak henti – hentinya memberikan rasa kasih sayangnya.
Kalau golongan mayoritas masih terus saja berpendapat minor soal kegiatan mereka, maka biarkan sajalah. Karena siapapun orangnya yang berpendapat bahwa kegiatan ini hanya mengantarkan nyawa saja, bahwa kegiatan ini hanya sia – sia belaka, tidak ada yang menaifkan hal ini. Mereka cuma tak paham bahwa ada satu cara di mana mereka tidak bisa merasakan seperti yang dirasakan oleh para petualang ini, yaitu kemenangan saat kaki tiba pada ketinggian. Coba deh….!!!!!!!!

Thursday, May 11, 2017

titi gantung putus

Sebuah jembatan putus seling nya , hingga  terjadi kecelakaan dan menenggelamkan satu unit sepeda motor , lokasi Daerah simp 3 mopoli tu , belok kiri sebelum titi simp 3 mopoli. menurut nara sumber zulfan hidayat salah satu seling penyanggah jembatan putus . hingga titi gantung menjadi oleng .

Wednesday, May 3, 2017

HARIMAU dalam Hari - hari mu

etrotvnews.com, Aceh Tamiang: Keberadaan harimau liar meresahkan warga Desa Wonosari, Kecamatan Timiang Hulu, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Harimau Sumatera liar itu masuk ke permukiman untuk mencari makan.

Seekor sapi milik warga sudah menjadi korban. Warga jadi tenang saat beraktifitas di sawah atau kebun yang berbatasan dengan hutan.
Baca Juga :
Dua Bayi Harimau Lahir di Taman Harimau Siberia Tiongkok
Turis Rusia Ditemukan Tewas Diserang Buaya di Papua
Seekor Hiu Tutul Raksasa Terperangkap Jaring Nelayan
Brandconnect5 Camilan Sehat di Kantor yang Tak Membuat Anda Gemuk
"Bekas tapak kaki harimau banyak didapati di kawasan perlebunan dan sekitar pinggiran hutan," kata Akhi, warga setempat, Selasa 2 Mei 2017.

Warga khawatir, jika nantinya tidak hanya hewan ternak yang dimangsa. Mereka berharap pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) secepatnya mencari solusi.

"Ini bahaya sekali, apalagi telah berkeliaran di sekitar kita dan sudah sempat mangsa sapi piaraan," tambah Akhi.

Monday, May 1, 2017

MAY DAY in BERLIN

Warga Jerman yang mendukung petani Kendeng menolak HeidelbergCement bergabung dalam aksi Hari Buruh Internasional di Berlin, bersama Gunarti yang mewakili petani Pati, Jawa Tengah.

Pada poster utama tertulis: "HeidelbergCement, Raus Aus Kendeng" (HeidelbergCement, Keluar dari Kendeng).

(note: Sempatkan melihat semua foto, karena foto terpenting saya letakkan paling akhir).
copas FB: Dandhy Dwi Laksono.
#TOLAKPABRIKSEMEN #KENDENGLESTARI #PATIBUMIMINATANI #tolakindocemen